Home / Artikel / MENDIDIK SISWA BERPIKIR ILMIAH

MENDIDIK SISWA BERPIKIR ILMIAH

          Pada berbagai momen pertemuan antar guru semisal pelatihan, sering didengar ungkapan guru mengenai banyaknya siswa yang tidak berpikir secara ilmiah. Guru mengeluhkan kebanyakan siswa pergi ke sekolah hanya untuk mendengarkan keterangan guru. Saat ujianpun, siswa umumnya menguraikan kembali materi yang pernah diajarkan oleh guru. Siswa berusaha keras mengigat-ingat kembali  materi ajar yang mereka hafal dirumah. Selanjutnya guru akan menilai hasil pekerjaan siswa tersebut melalaui selembar kertas ujian. Gurupun akan memberikan nilai terbaik bagi siswa yang mapu menuliskan hasil hafalannya sesuai indikator yang diberikan guru. Dan nilai kurang bagi siswa yang tidak mampu menjawab soal dengan baik.
             Tentunya cara belajar seperti ini bukanlah suatu keberhasilan, dan merupakan cara belajar yang tidak sesuai dengan harapan. Kalau hanya sekedar nilai dan ujian, tentunya siswa akan dapat menjawap pertanyan yang diberikan oleh guru. Aka ada siswa yang memperoleh nilai yang tinggi. Tetapi sudah dapatkah guru beranggapan siswa tersebut telah sukses dalam pembelajaran yang sesungguhnya. Meskipun beberapa minggu setelah ujian mereka ditanya lagi tentang materi yang dipelejari sebelumnya, terkadang mereka tidak tahu lagi atau sudah lupa dengan apa yang pernah mereka pelajari.
        Fenomena pembelajaran sebagaimana yang dikeluhkan guru diatas tentunya banyak ditemui di sekolah-sekolah. Tampaknya proses pembelajaran baru dilaksanakan sebatas mencapai tujuan pembelajaran pada tingkat rendah yakni, mengetahui, memahami dan menggunakan. Proses pembelajaran belum mampu menumbuhkan kebiasaan berpikir  ilmiah. Berpikir  ilmiah merupakan suatu yang paling esensi dalam dimensi belajar. Artinya sebagian besar guru belum merancang pembelajaran yang mengembangkan kemampuan berpikir (Kamdi, 2002). Proses pembelajaran hendaknya jangan lagi berupaya menjadikan siswa dari yang tidak bisa menjadi  bisa, dari yang tidak tahu menjadi tahu. Kegiatan pembelajaran tidak boleh lagi berupa menambah pengetahuan siswa, kegiatan menghadiri, mendengarkan dan mencatat penjelasan guru.
          Dalam tataran ini siswa  belajar dalam keadaan pasif, menerima apa saja yang diberikan guru, tanpa diberi kesempatan untuk membangun sendiri pengetahuan yang dibutuhkan dan diminatinya. Barangkali disinilah titik pangkal keluhan guru, tentang siswa yang tidak mau berpikir secara ilmiah. Bisa saja penyebabnya, guru belum mampu memberdayagunakan, memfasilitasi, memotivasi, memberi kesempatan untuk berfikir, bernalar, berkolaborasi untuk mengkonstruksi  pengetahuan sesuai dengan minat dan kebutuhannya. Sudah saatnya siswa  diberi kebebasan untuk belajar. Artinya dalam konteks ini proses pembelajaran bukanlah proses menerima, mengingat dan menuliskan kembali apa yang diingat ke selembar kertas ujian. Tetapi belajar haruslah berbasis otak (Jalaluddin Rahkmad, 2005). Otak merupakan organ paling penting untuk berpikir yang selama ini agak terlupakan oleh guru dalam proses pembelajaran.
           Sepatutnya guru sebagai pembimbimbing kegiatan pembelajaran perlu menyadari dan berpikir bagaimana siswa bisa menggunakan otaknya secara cerdas, kritis, ilmiah, dan kreatif. Mampu memecahkan masalah yang berkaitan dengan kehidupannya sehari-hari. Hendaknya gurupun dalam meyelenggarakan kegiatan pembelajaran memnggunakan model dan metode pembelajaran yang mampu membuat siswa membiasakan diri berpikir secara ilmiah. Bagaimana  munkin seorang guru dapat menciptakan siswa berpola pikir ilmiah ketika gurunya justru mengajar dengan pola konvensional.
            Pada tataran ini  peranan guru amatlah besar. Guru harus kreaktif menciptakan model pembelajaran yang kontekstual. Guru berusaha menggiring siswa memahami berbagai gejala dan fakta yang ada dilingkungan. Mengajak siswa melakukan penelitian kecil-kecilan, melakukan observasi lingkungan, mengumpulkan data, membuat hipotesis, bereksperimen, membuat kesimpulan serta menguji kesimpulan yang biasa disebut dengan metode ilmiah. Metode ilmiah merupakan metode yang paling ampuh yang pernah ditemukan manusia dalam rangka menemukan dan mengumpulkan ilmu pengetahuan tentang alam.
Untuk dapat menggunakan metode ilmiah tetuntunya guru mesti memiliki persiapan. Guru perlu merancang  Rencana Proses Pembelajaran (RPP), Lembaran Kegiatan Siswa (LKS) yang memuat langkah-langka kegiatan siswa untuk menemukan fakta, tiori, konsep atau hukum di alam semesta. Alat dan bahan yang dibutuhkan  perlu dijelaskan oleh guru baik nama, sifat dan kegunaannya.
             Siswa dilatih bekerja secara berkelompok agar tebentuk jiwa sosial, terbuka, saling menghargai dan berani menyampaikan pendapatnya. Untuk memperkuat data temuan siswa  merekapun hendaknya dilatih untuk memanfaatkan beberapa buku referensi atau internet jika ada. Guru hendaklah pula membimbing siswa mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya. Hal ini penting dalam upaya menumbuhkan keberanian, percaya diri siswa dan melatihkan diri untuk berkomunikasi didepan umum. Siswapun dilatih untuk memberikan pendapat serta menanggapai hasil presentasi kelompok yang ditampilkan. Hal ini untuk membentuk siswa  agar terbiasa berpikir kritis, analisis sehingga tidak mudah begitu saja menerima pendapat orang lain. Pola ini juga sangat bermanfaat untuk membentuk ketangguhan siswa dalam berfikir dan bertindak serta bertanggung jawab atas segala imformasi dan fakta yang ditemukannya.
        Berdasarkan uraian diatas mendidik siswa berpikir ilmiah menjadi penting terutama dalam menjawab tantangan globalisasi. Tentunya kita tidak mau menjadi bangsa penikmat, bangsa pencari kerja. Dengan berpikir ilmiah diharapkan siswa kelak akan menjadi generasi yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Mereka akan terbiasa menganalisis,  mengumpulkan data dan fakta.Tidak mau berprasangka dan menduga-duga sebelum membuktikannya. Tidak gampang mengampil kesimpulan terhadap permasalahan keseharian sebalum menganalisisi berbagai faktor yang mukin jadi penyebabnya. Sangat membanggakan bila siswa, mampu berpikir kritis dan  ilmiah, ketika berbicara efektif, ketika berbuat kreaktif, jujur, bermanfaat dan bertanggungjawab. Berpikir ilmiahpun  ternyata mampu  menciptakan generasi yang Relegius karena semakin dia berpikir ilmah, semakin banyak ilmu pengetahuan yang diperolehnya, dan pada gilirannya dapat  menyadarkan dirinya akan kekuasaan dan keberadaan Tuhan Yang Maha Esa. Yang amat penting lagi ketika siswa mampu berpikir secara ilmiah tentu mereka tidak akan mau melalukan perbuatan tercela seperti narkoba dan tauran.

Check Also

Nilai Anak Kita

Nilai Anak Kita Oleh: Suindra – Kepala SMP Negeri 11 Padang Senang hati ketika melihat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *