Home / Artikel / Nilai Anak Kita

Nilai Anak Kita

Nilai Anak Kita
Oleh: Suindra – Kepala SMP Negeri 11 Padang
profil-kepsekSenang hati ketika melihat nilai anak-anak kita rata-rata diatas delapan, sembilan bahkan memperoleh angka sempurna sepuluh. Barangkali tidak siswa saja orang dewasa sekalipun ketika selesai ujian memperoleh angka sempurna tentu alangkah bahagianya. Nilai sempurna yang mereka peroleh sepertinya mengindikasikan kesuksesan mereka menempuh pendidikan disekolah.
Nilai memang sesuatu yang sangat fenomenal. Dengan nilai siswa dapat naik tingkat dari kelas dari kelas satu ke kelas dua. Dari kelas dua ke kelas tiga. Dengan nilai siswa dinyatakan lulus atau tidak lulus. Dengan nilai siswa menjadi berprestasi/juara atau tidak berprestasi sama sekali. Dengan nilai dapat membuat siswa gembira atau sedih. Dengan nialai juga ternyata ada implikasinya terhadap orang tua siswa. Ketika melihat nilai anaknya bagus, orang tua sangat gembira. Mereka syukuran, memberi hadiah kapada anaknya. Ketika anaknya memperoleh nilai kurang bagus. Serta merta orangtua bisa murka, marah-marah dan merasa malu becampur sedih.
Nialai juga ternyata sangat menentukan untuk nasip pendidikan mereka selanjutnya. Sperti saat ini orang tua dan siswa disibukkan mendaftar ke sekolah baru. Nilai ujian nasional menjadi satu-satunya kriteria seleksi memasuki sekolah baru. Bagi anak-anak yang nilainya tinggi mereka tenag-tenang saja, karena yakin akan diterima disekolah yang dituju. Bagi anak-anak yang nialainya apa adanya orang tuanya stress mencari sekolah baru. Mereka cemas dan pusing takut kalau anaknya tidak dapat diterima disekolah negeri. Begitulah nilai sebuah hasil pembelajaran semuanya bisa gembira, sedih dan prihatin.
Dibalik itu barangkali ada sesuatu yang perlu direnungkan. Nilai itu milik siapa ?. Apakah nilai itu milik siswa, guru atau orang tua ?. Atau nilai itu milik semua. Apa sebenarnya esensi dari nilai hasil belajar. Kenapa harus dilakukan penilaian dan apa tujuannya ?. Hal ini patut menjadi renungan, sehingga tidak salah kaprah dalam menyikapi nilai hasil belajar.
Menurut Akhmat Sudrajat penilaian (assessment) adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik. Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang peserta didik. Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka). Pengukuran berhubungan dengan proses pencarian atau penentuan nilai kuantitatif tersebut. Secara khusus, dalam konteks pembelajaran di kelas, penilaian dilakukan untuk mengetahui kemajuan dan hasil belajar peserta didik, mendiagnosa kesulitan belajar, memberikan umpan balik/perbaikan proses belajar mengajar, dan penentuan kenaikan kelas.
Melalui penilaian dapat diperoleh informasi yang akurat tentang penyelenggaraan pembelajaran dan keberhasilan belajar peserta didik, guru, serta proses pembelajaran itu sendiri. Berdasarkan informasi itu, dapat dibuat keputusan tentang pembelajaran, kesulitan peserta didik dan upaya bimbingan yang diperlukan serta keberadaan kurikukulum itu sendiri.(Anonim.2010)
Gagne mengungkapkan ada lima kategori hasil belajar yakni : informasi verbal,     kecakapan intelektul, strategi kognitif, sikap dan keterampilan.  Bloom mengungkapkan tiga tujuan pengajaran yang merupakan kemampuan seseorang yang harus dicapai dan merupakan hasil belajar yaitu : kognitif, afektif dan psikomotorik (Sudjana, 1990:22).
Hasil belajar yang dicapai siswa menurut Sudjana (1990:56), melalui proses belajar mengajar yang optimal ditunjukkan dengan ciri-ciri sebagai berikut. Kepuasan dan kebanggaan yang dapat menumbuhkan motivasi belajar intrinsik padadiri siswa. Siswa tidak mengeluh dengan prestasi yang rendah dan ia akan berjuanglebih keras untuk memperbaikinya atau setidaknya mempertahankan apa yang telahdicapai. Menambah keyakinan dan kemampuan dirinya, artinya ia tahu kemampuan dirinyadan percaya bahwa ia mempunyai potensi yang tidak kalah dari orang lain apabila ia berusaha sebagaimana mestinya.
Penilaian sebagai peransang atau dorongan, bertujuan untuk memotivasi peserta didik agar berusaha melakukan yang terbaik sebagai hadiah atas pekerjaannya. Hadiah tersebut dapat beupa nilai atau peringkat atas usaha belajar peserta didik. Penilaian sebagai umpan balik bagi peserta didik, bertujuan menberikan gambaran peserta didik tentang kekuatan dan kelemahanya karena peserta didik ingin tahu atas hasil usaha mereka dalam belajar.dengan begitu dapat menbantu peserta didik dalam menperbaiki  kelemahan mereka dimasa datang.
Penilaian sebagai umpan balik bagi pengajar, bertujuan untuk mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan pengajar dalam menjalankan tugasnya. Selain itu pengajar juaga menperoleh  gambaran posisi/kedudukan peserta didik apakah termasuk kategori cepat dalam suatu kurun tertentu , memperoleh gambaran posisi/kedududukan peserta didik apakah termasuk kategori cepat, sedanga atau lambat, menperoleh tentang gambaran tingkat usaha yang telah dilakukan peserta didik,menperoleh gambaran hingga sejauh mana peserta didik telah mendayagunakan kapasitas kognitifnya serta gambaran tentang ketepatan materi dan metode yang digunakan pengajar apakah sesuai atau perlu diperbaiki.
Penilaian sebagai umpan balik bagi orang tua, bertujuan sebagai informasi bagi orang tua sehingga diharapkan ornga tua dapat bekerja sama menbantu peserta didik dalam meningkatkan prestasi blajarnya. Penilaian sebagai informasi untuk seleksi, bertujuan sebagai infomasi untuk seleksi, bertujuan sebagai pedoman terhadap peserta didik untuk melanjutkan studi ketinggkat yang lebih tinggi atau untuk tujuan lainnya seperti seleksi pendidikan yang lebih tinggi atau untuk tujuan lainya seperti seleksi untuk mendapatkan beasiswa dan pekerjaan.
Dengan demikian dapat disimpulkan ternyata penialaian memiliki banyak makna. Untuk itu agar hasil penilaian tepat sasaran tentu mesti dilakukan dengan cara-cara yang benar dan akurat. Ketika nilai yang diperoleh dengan cara yang tidak benar tentu akan berdampak terhadap fungsi dari nilai itu sendiri. Anak yang tadinya nilainya bagus bisa saja menjadi drop ketika setelah diuji lagi ternyata tidak sesuai dengan kemampuannya. Oleh karena itu perlu guru dan kita semua melakukan penilaian sesuai dengan prosedur yang sudah ada sehingga nilai yang diperoleh siswa benar-benar sesuai dengan kemampuannya dan menjadi miliknya.

Check Also

MENDIDIK SISWA BERPIKIR ILMIAH

          Pada berbagai momen pertemuan antar guru semisal pelatihan, sering didengar …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *